Halaman

Sabtu, 24 November 2018

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck



Judul         : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Jenis          : Novel
Penulis       : Hamka

Novel ini diawali pertemuan antara Zainuddin dan Hayati, sampai mereka saling jatuh cinta. Hubungan kasih antar keduanya tidak disetujui oleh keluarga dari Hayati, karena Zainuddin dianggap tidak mempunyai suku dan berbeda adatnya dengan keluarga Hayati. Dulu ayah dari Zainuddin asli keturunan Minangkabau, ayah Zainuddin menikah tidak dengan orang yang sama dengan sukunya. Dari situ Zainuddin dianggap anak orang Mengkasar, namun di Mengkasar orang-orang daerah situ tidak pula menganggap Zainuddin sebagai orang Mengkasar, mereka menganggap Zainuddin orang Padang dan terbuang dari Minangkabau.
Akhirnya Hayati menikah dengan Azis, Azis adalah kakak dari Khadijah, sahabatnya yang tinggal di Padang Panjang atas pilihan Hayati yang terpaksa dan keputusan keluarganya yang sudah sepakat menerima Azis dan tentu saja sudah menolak lamaran dari Zainuddin. Azis anak orang kaya yang masih satu suku. Diawal pernikahan Hayati dan Azis sangat bahagia karena Azis pandai sekali menyenangkan hati Hayati. Namun Hayati tidak tahu jika Azis suaminya itu adalah tipe orang yang suka membuang uang, berjudi, mabuk-mabukkan dan senang main perempuan.
Saat itu lamaran Zainuddin lewat surat telah dibalas oleh keluarga Hayati, isi dalam surat itu adalah sebuah penolakan akan keinginannya untuk meminang Hayati, saat itu juga Zainuddin tahu bahwa Hayati telah menikah dan Zainuddin pun jatuh sakit. Sakit yang diderita berbeda dari orang sakit biasanya, sakitnya seperti orang gila yang selalu memanggil nama Hayati dimanapun dan kapanpun. Atas permintaan dokter serta kerluarga Zainuddin dan izin dari Azis suaminya akhirnya Hayati pun menjenguk Zainuddin. Dengan begitu saja sakit yang diderita Zainuddin seketika sembuh. Setelah menyadari Hayati sudah milik orang lain, Zainuddin pun bertekad melupakan dan akan memulai lembaran baru di kehidupannya. Setelah beberapa kali berusaha akhirnya Zainuddin menjadi penulis yang terkenal di tanah Jawa. Seiring berjalannya waktu juga akhirnya Azis bangkrut karena wataknya yang seperti itu, kemudian rela menceraikan Hayati demi Zainuddin yang telah banyak membantunya saat itu dan Azis bunuh diri di sebuah hotel. Zainuddin menolak untuk menerima Hayati demi membalas dendamnya terhadap Hayati atas pengkhianatan yang dilakukan Hayati.
Zainuddin menginginkan Hayati untuk pulang ke daerah asalnya, namun sebenarnya Hayati menolak pulang dengan perasaan sedih menaiki kapal Van Der Wijck. Kapal tersebut tenggelam dalam perjalanan tetapi Hayati berhasil selamat. Dia meninggal setelah Zainuddin mengajarkannya mengucap kalimat syahadat. Setelah hayati meninggal dalam peristiwa itu, Zainuddin setiap hari mendatangi kubur Hayati, Zainuddin semakin rapuh dan sakit-sakitan, Zainuddin yang terkenal dengan karya-karya hikayatnya kini lemah oleh harapan bersama Hayati. Setahun kemudian Zainuddin meninggal dunia. Zainuddin pun dikubur bersama cintanya yang abadi di samping kubur Hayati.


Novel ini mengajarkan kita agar tidak berbuat jahat kepada orang lain walaupun orang lain itu telah mengejek bahkan menghina kita, juga mengajarkan agar tidak selalu terpuruk saat tertimpa musibah atau kesedihan dan berusaha bangkit untuk mengatasinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar