Judul : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Jenis : Novel
Penulis : Hamka
Novel
ini diawali pertemuan antara Zainuddin dan Hayati, sampai mereka saling jatuh
cinta. Hubungan kasih antar keduanya tidak disetujui oleh keluarga dari Hayati,
karena Zainuddin dianggap tidak mempunyai suku dan berbeda adatnya dengan
keluarga Hayati. Dulu ayah dari Zainuddin asli keturunan Minangkabau, ayah
Zainuddin menikah tidak dengan orang yang sama dengan sukunya. Dari situ
Zainuddin dianggap anak orang Mengkasar, namun di Mengkasar orang-orang daerah
situ tidak pula menganggap Zainuddin sebagai orang Mengkasar, mereka menganggap
Zainuddin orang Padang dan terbuang dari Minangkabau.
Akhirnya
Hayati menikah dengan Azis, Azis adalah kakak dari Khadijah, sahabatnya yang
tinggal di Padang Panjang atas pilihan Hayati yang terpaksa dan keputusan
keluarganya yang sudah sepakat menerima Azis dan tentu saja sudah menolak
lamaran dari Zainuddin. Azis anak orang kaya yang masih satu suku. Diawal
pernikahan Hayati dan Azis sangat bahagia karena Azis pandai sekali
menyenangkan hati Hayati. Namun Hayati tidak tahu jika Azis suaminya itu adalah
tipe orang yang suka membuang uang, berjudi, mabuk-mabukkan dan senang main
perempuan.
Saat
itu lamaran Zainuddin lewat surat telah dibalas oleh keluarga Hayati, isi dalam
surat itu adalah sebuah penolakan akan keinginannya untuk meminang Hayati, saat
itu juga Zainuddin tahu bahwa Hayati telah menikah dan Zainuddin pun jatuh
sakit. Sakit yang diderita berbeda dari orang sakit biasanya, sakitnya seperti
orang gila yang selalu memanggil nama Hayati dimanapun dan kapanpun. Atas
permintaan dokter serta kerluarga Zainuddin dan izin dari Azis suaminya
akhirnya Hayati pun menjenguk Zainuddin. Dengan begitu saja sakit yang
diderita Zainuddin seketika sembuh. Setelah menyadari Hayati sudah milik orang
lain, Zainuddin pun bertekad melupakan dan akan memulai lembaran baru di
kehidupannya. Setelah beberapa kali berusaha akhirnya Zainuddin menjadi penulis
yang terkenal di tanah Jawa. Seiring berjalannya waktu juga akhirnya Azis
bangkrut karena wataknya yang seperti itu, kemudian rela menceraikan Hayati
demi Zainuddin yang telah banyak membantunya saat itu dan Azis bunuh diri di
sebuah hotel. Zainuddin menolak untuk menerima Hayati demi membalas dendamnya
terhadap Hayati atas pengkhianatan yang dilakukan Hayati.
Zainuddin
menginginkan Hayati untuk pulang ke daerah asalnya, namun sebenarnya Hayati
menolak pulang dengan perasaan sedih menaiki kapal Van Der Wijck. Kapal
tersebut tenggelam dalam perjalanan tetapi Hayati berhasil selamat. Dia
meninggal setelah Zainuddin mengajarkannya mengucap kalimat syahadat.
Setelah hayati meninggal dalam peristiwa itu, Zainuddin setiap hari mendatangi
kubur Hayati, Zainuddin semakin rapuh dan sakit-sakitan, Zainuddin yang
terkenal dengan karya-karya hikayatnya kini lemah oleh harapan bersama Hayati.
Setahun kemudian Zainuddin meninggal dunia. Zainuddin pun dikubur bersama
cintanya yang abadi di samping kubur Hayati.
Novel ini mengajarkan kita agar tidak berbuat jahat
kepada orang lain walaupun orang lain itu telah mengejek bahkan menghina kita,
juga mengajarkan agar tidak selalu terpuruk saat tertimpa musibah atau
kesedihan dan berusaha bangkit untuk mengatasinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar