Judul : Kubah
Jenis : Novel
Penulis : Ahmad Tohari
Novel ini menceritakan mengenai Karman
yang menjadi tahanan politik selama dua belas tahun. Marni, istri Karman
memutuskan untuk menikah dengan Parta setelah lima tahun ditinggalkannya karena
sudah tidak mampu menghidupi keluarganya tanpa seorang suami. Saat muda, Karman
adalah anak yang baik, rajin, dan taat beribadah. Ia bekerja di tempat Haji
Bakir dan menjadi teman anaknya, Rifah. Haji Bakir memperlakukan Karman dengan
sangat baik layaknya anaknya sendiri.
Seiring
berjalannya waktu, Karman mulai mencintai Rifah. Ia pun melamar Rifah tetapi
terlambat karena Rifah sudah dipersunting Abdul Rahman. Ia juga marah lantaran
lamarannya ditolak Haji Bakir. Datanglah Margo yang memprovokasi Karman dan
mengatakan bahwa Haji Bakiradalah orang yang jahat. Hal itulah yang menjadi
titik awal Karman terpengaruh ajaran Margo. Sekarang Karman sudah tidak mau
beribadah di masjid Haji Bakir. Lama kelamaan ia pun mulai meninggalkan
perintah agamanya dan telah masuk menjadi anggota partai komunis. Ia juga menikah dengan Marni, wanita yang taat
beragama, tertapi tidak pernah mempermasalahkan Karman yang tidak pernah
beribadah lagi.
Pada saat orang-orang partai komunis
ditankap, Karman bersembunyi selama berhari-hari. Sampai akhirnya dia ditangkap
dalam keadaan sakit-sakitan dan kemudian ia dipenjara selama dua belas tahun.
Saat sudah keluar dari penjara, ia pulang ke rumah sepupunya dan menjumpai anak
sulungnya, Rudio.
Suatu
ketika, Tini, anak kedua Karman dengan Marni dilamar oleh Jabir yang merupakan
anak dari Rifah dan Abdul Rahman cucu Haji Bakir. Meski Abdul Rahman sudah
meninggal, Karman merasa sangat sungkan bersama Haji Bakir karena pernah
mencintai Rifah dan perbuatannya yang sangat keterlaluan dengan kebaikan yang
telah Haji Bakir berikan. Haji Bakir telah melupakan semua kejadian itu dan
memaafkan Karman, ia pun lemerasa lega. Karman telah kembali berbaur seutuhnya
dengan masyarakat desa Pegaten, ia juga membantu merenofasi masjid Haji Bakir
dengan membuatkan kubah yang indah untuk masjid itu.
Yang
menarik dalam novel ini adalah alur yang dipermainkan oleh Ahmad Tohari.
Walaupun permainan alur ini sering dimainkan, hal itu tidak membuat bingung
pembacanya justru menjadikan novel ini unik dan menarik untuk dibaca dengan
kisahnya yang sangat bagus dan bahasanya yang mudah untuk dipahami. Selain itu, pada novel ini juga banyak
terkandung nolai-nilai moral dan sosial yaitu dengan memaafkan orang yang
berbuat salah, senantiasa menerima kembali niat baik orang yang dulunya sempat
keluar dari tata karma.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar