Halaman

Sabtu, 24 November 2018

Azab dan Sengsara



Judul         : Azab dan Sengsara
Jenis          : Roman
Penulis       : Merari Siregar

      Novel ini menceritakan seorang Aminuddin yang merupakan anak Baginda Diatas, seorang kepala kampong yang terkenal kedermawanan dan kekayaannya. Masyarakat disekitar Sipirok amat segan dan hormat kepada keluarga itu. Sedangkan Mariamin adalah anak yang menjadi miskin lantaran almarhum ayahnya boros dan serakah, Mariamin masih punya ikatan dengan keluarga Aminuddin. Walaupun begitu mereka tetap bersahabat, sampai akhirnya mereka saling mencintai.
Aminuddin berjanji hendak mempersunting Mariamin kelak ia sudah bekerja. Niat Aminuddin itu disampaikan kepada kedua orang tuanya. Ibunya sama sekali tidak keberatan.  Namun, ayah Aminuddin ingin agar anaknya beristrikan orang yang sederajat. Hingga ayahnya menggunakan dukun untuk membujuk istrinya dengan diberitakan sebuah nasib buruk jika Aminuddin dan Mariamin menikah. Ibu Aminuddin tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima apa yang menurut suaminya baik bagi kehidupan anaknya.
Kedua orang tua Aminuddin akhirnya meminang seorang gadis keluarga, sementara Aminuddin yang berada di Medan, sama sekali tidak mengetahui apa yang direncanakan orang tuanya. Dengan penuh harapan, ia tetap menanti kedatangan ayahnya yang akan membawa Mariamin. Namun, apa yang terjadi kemudian hanyalah kekecewaan. Ayahnya bukan membawa pujaan hatinya, melainkan seorang gadis yang bernama Siregar. Aminuddin tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima gadis yang dibawa ayahnya. Berat hati ia mengabarkannya kepada Mariamin. Berita itu tentu sangat memukul perasaannya, sampai ia pun jatuh sakit.
Setahun setelah peristiwa itu, ibu Mariamin terpaksa menerima lamaran Kasibun, seorang lelaki yang tidak diketahui asal-usulnya. Dengan harapan dapat mengurangi penderitaan ibu-anak itu, ibu Mariamin terpaksa menjodohkan anaknya dengan Kasibun. Kasibun kemudian membawa Mariamin ke Medan. Penderitaan Mariamin belum juga berakhir. Suaminya ternyata mengidap penyakit berbahaya yang dapat menular bila keduanya melakukan hubungan suami-istri. Itu yang menyebabkan pertengkaran demi pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga yang tak dapat dihindarkan. Tak segan-segan Kasibun menyiksanya dengan kejam.
Dalam suasana kehidupan rumah tangga yang demikian, secara kebetulan, Aminuddin datang bertamu. Sebagaimana lazimnya kedatangan tamu, Mariamin menerimanya dengan senang hati, tanpa prasangka apa pun. Namun, bagi Kasibun, kedatangan Aminuddin itu makin mengobarkan rasa cemburu dan amarahnya. Tanpa belas kasihan, ia menyiksa istrinya sejadi-jadinya. Tak kuasa menerima perlakuan kejam Kasibun, Mariamin akhirnya mengadu dan melaporkan tindakan suaminya kepada polisi. Polisi kemudian memutuskan bahwa Kasibun harus membayar denda dan sekaligus memutuskan hubungan tali perkawinan dengan Mariamin.
Janda Mariamin akhirnya terpaksa kembali ke Sipirok, kampong halamannya. Tidak lama kemudian, penderitaannya yang silih berganti menimpa wanita itu, sempurna sudah dengan kematiannya.


Dalam novel ini mengisahkan mengenai adat masyarakat Siporok yang masih kental akan adat melayu dalam hal perjodohan bahwa anak orang terpandang haruslah menikah dengan anak orang terpandang pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar