Halaman

Sabtu, 24 November 2018

Di Bawah Lindungan Ka’bah



Judul         : Di Bawah Lindungan Ka’bah
Jenis          : Novel
Penulis       : Hamka

Novel ini menceritakan seorang Hamid yang merupakan anak yatim dan miskin. Dia dianggap seperti keluarga sendiri oleh Haji Jafar yang kaya-raya. Hamid sangat menyayangi Zainab, yang merupakan anak dari Haji Jafar. Ketika keduanya beranjak remaja, dalam hati masing-masing mulai tumbuh perasaan lain. Hamid tidak berani mengutarakan isi hatinya kepada Zainab sebab dia menyadari bahwa Zainab merupakan anak orang terkaya dan terpandang, sedangkan dia hanyalah berasal dari keluarga biasa dan miskin.
Tanpa memberi tahu siapa pun, Hamid meninggalkan kampungnya menuju Siantar, Medan. Setelah Haji Jafar, orang yang selama ini banyak menolongnya, berpulang ke rahmatullah, tak lama kemudian ibu kandung yang dicintainya juga meninggal. Hamid kini tinggal sebatang kara. Ayahnya telah meninggal ketika ia berusia empat tahun.
Dalam kemalangannya itu, Mak Asiah dan anaknya, Zainab, tetap menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Oleh karena itu, Mak Asiah begitu yakin terhadap Hamid untuk dapat membujuk Zainab agar mau dikawinkan dengan saudara dari pihak mendiang suaminya. Dengan berat hati, Hamid mengutarakan maksud itu walaupun yang sebenarnya, ia sangat mencintai Zainab.
Setelah melakukan perjalanan ke Medan, Hamid meneruskan perjalanannya ke Singapura dan akhirnya ia sampailah di tanah suci, Mekah. Di Mekah ia tinggal dengan seorang Syekh, yang pekerjaanya menyewakan tempat bagi orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji. Tanpa diduga, teman sekampungnya, menyewa pula tempat Syekh itu. Orang yang baru datang itu bernama Saleh, suami Rosna, yang hendak menuntut ilmu agama di Mesir setelah ibadah haji selesai.
Dari pertemuan yang tak disangka-sangka itu, ternyata banyak sekali berita dari kampung halaman-terutama berita tentang Zainab-yang sejak ditinggalkan Hamid dan tidak jadi dikawinkan dengan saudara ayahnya itu, kini sedang dalam keadaan sakit-sakitan dan keadaannya semakin parah. Disusul dengan keadaan kesehatan Hamid yang juga terganggu. Walaupun demikian, Hamid tetap menjalankan perintah suci itu. Sekembalinya Hamid dari Arafah, suhu badanya semakin tinggi. Hamid tak mau menyentuh makanan sehingga badanya semakin lemah. Pada saat yang sama, surat dari Rosna diterima Saleh yang menerangkan bahwa Zainab telah wafat.
Ketika akan berangkat ke Mina, Hamid tak sadarkan diri. Temannya, Saleh, terpaksa mengupah orang Badui untuk membawa Hamid ke Mina. Dari situ mereka menuju Masjidil Haram-kemudian mengelilingi kabah sebanyak tujuh kali. Tepat di antara pintu ka’bah dan batu hitam, kedua orang Badui itu diminta berhenti. Hamid mengulurkan tangannya, memegang kiswah sambil memanjatkan doa yang panjang, semakin lama suara Hamid semakin terdengar pelan. Sesaat kemudian, Hamid menutup matanya untuk selama-lamanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar