Halaman

Rabu, 29 Agustus 2018

Perjalanan Pangeran Diponegoro


Jejak Kesaktian dan Spiritual Pangeran Diponegoro



IDENTITAS BUKU



Judul buku        : Jejak Kesaktian dan Spiritual Pangeran Diponegoro
Jenis buku         : Pahlawan
Penerbit             : Araska Publisher
Cetakan             : Pertama
Tahun terbit       : 2014
Jumlah halaman : 246 halaman





BIODATA PANGERAN DIPONEGORO

     Nama               : Bendoro Raden Mas Mustahar (nama kecil) รจ Pangeran Diponegoro 
          TTL                 : Keraton Yogyakarta, 11 November 1785
     Ayah                : Gusti Raden Mas Suryo (HB III)
     Ibu                   : Raden Ayu Mangkarawati
     Kakek              : Hamengkubuwana I
     Eyang buyut    : Ratu Ageng Prampelan (dari Pajang)
     Nama-namanya           :
1.       Bendoro Raden Mas Mustahar (saat lahir)
2.      Raden Mas Ontowiryo (remaja)
3.       Pengeran Diponegoro (saat ayahnya diangkat menjadi HB III)
4.      Syech Ngabdurrahim (saat menyamar sbg rakyat kecil, menuntut ilmu di pesantren)
5.       Ngabdulkamit (dari Sunan Kalijaga)
6.       Sultan Erucokro (dari para pendukungnya saat perang Jawa)
      Silsilah
Prabu Brawijaya V --> Bondan Kejawan --> Ki Getas Pandawa --> Ki Ageng Solo --> Ki Ageng Ngenis --> Ki Ageng Pemanahan --> Panembahan Senapati --> Panembahan Sedakrapyak --> Sultan Agung Amangkurat I --> Pakubuwana I --> Amangkurat IV --> HB I --> HB II --> HB III --> Pangeran Diponegoro
      Istri (7)
      Anak (22)
      Wafat              : Fort Roterrdam, Makassar, 8 Januari 1855


HUBUNGAN DIPONEGOROO DENGAN PARA PENGUASA JAWA

A.    Diponegoro dan Keraton Yogyakarta Hadiningrat
·         Lahir saat HB I masih bertahta, kepemimpinan HB II (umur 7 tahun), mulai tinggal di luar keraton yaitu di Tegalrejo.
·         Hubungan Diponegoro dengan keraton lebih bersifat personal/ informal, pertemuan formal jarang diikuti.
·         Tidak mau menghadap istana karena banyak persekongkolan, kemerosotan akhlak, pelanggaran susila, budaya barat yang merusak.
·         Sampai perang Jawa, bangsawan keraton dibagi menjadi dua kubu (memihak Belanda --> Ratu Ibu, Patih Danureja IV) dan di pihak Diponegoro (Mangkubumi, Pangeran Ngabehi Jayakusuma)

B.     Diponegoro dan Keraton Surakarta
·         Pakubuwana IV mendukungnya,  Pakubuwana IV terikat perjanjian dengan Belanda (menjalin persekutuannya dengan Diponegoro secara diam-diam).
·         Menjalankan aksi ganda (memberi bantuan dan dukungan kepada Diponegoro dan mengirimkan pasukan pura-pura  membantu Belanda).
·         Diponegoro sangat dekat dengan para ulama seperti Kiai Mojo.

C.    Perjuangan Keturunan Diponegoro: Bersembunyi dan Amnesti
·         Setelah penangkapan dan pengasingan Diponegoro keluarga dan keturunannya banyak yang berpisah dan menutupi identitasnya sehingga tak jarang anggota keluarga tak mengenal lainnya.
·         Ada kode rahasia untuk mengenali keturunan Diponegoro[trah Sadewa (menanam pohon di sekeliling rumah; kemuning di kanan-kiri, sawo di depan tapi bukan sawo kecik karena lazim ditemui di sekitar keraton, kepel di belakang).]
·         Kedatangan anak-cucu ke Jawa terjadi setelah kemerdekaan (jasa Bung Karno).
·         Di Jawa Tengah keturunannya terbebani oleh posisinya sebagai pemberontak yang tidak diterima di lingkungan keraton sehingga banyak yang tidak mengaku sebagai keturunannya.
·         Sekarang sudah tidak dengan adanya amnesty dari Sri Sultan HB IX.

MELETUSNYA PERANG JAWA
A.    Penjajahan Eropa: Dari Rennaisance ke Kolonialisme
Berbagai cara ( perjanjian kerja sama yang licik, dengan kekerasan (perang), memonopoli perdagangan).
1.      Menjadi Koloni Prancis-Belanda
·         Daendels tidak mencerminkan semboyan “Liberte, Egalite, Fraternite” kebebasan, persamaan, bertindak egois.
·         Tercermin saat proyek pembuatan dan pelebaran jalan 1000 km dari Anyer, Banten sampai Panarukan, Situbondo.
·         Merombak relasi dengan raja-raja Jawa (melunturkan kehormatan lokal dan menghapus upacara-upacara adat).
·         Raja-raja Jawa menyebutnya Mas Guntur, Tangan Guntur, Mas Galak (hobi membentak dan suaranya menggelegar).
·         Meletupkan perang besar (perang Diponegoro atau perang Jawa).
2.      Di bawah Kekuasaan Inggris
·         Daendels digantikan oleh Jan William Janssens.
·         Inggris memegang kekuasaan ditandai dengan perjanjian Tuntang. Belanda tidak lagi memiliki kekuasaan di Indonesia.
·         Lord Minto mengangkat Thomas Stamford Raffles sebagai letnan gubernur Hindia Belanda.
·         Raffles dikenal mempunyai kebijakan yang liberal seperti penghapusan budak tidak jauh berbeda dengan Daendels.
·         1812 Yogyakarta jatuh ke tangan Inggris, raja yang bertahta yaitu HB II dipaksa menyerahkan tahtanya kepada putra mahkota.
3.      Kembali ke Tangan Belanda
·         Masa pemerintahan HB IV (masa keemasan masuknya pengaruh budaya Eropa di Jawa, moral rusak).
·         HB IV meninggal mendadak (kemungkinan diracun), digantikan anaknya RM Menol (2 tahun).

B.     Pengaruh Bencana Alam Dan Wabah Penyakit
Meletusnya gunung Tambora 1815 (salah dugaan), letusan Merapi (sebelum Perang Diponegoro, wabah penyakit (kolera).

C.    Pemicu Perang Jawa
·         Perang antara Diponegoro bersama rakyat Jawa melawan keraton Yogyakarta yang tunduk Belanda.
·         Akibat sewenang-wenangan Belanda.
·         Sebagai anak tertua HB II diangkat menjadi putra Mahkota tetapi menolak karena menganggap ayahnya telah durhaka kepada kakeknya (HB II) karena bersikap lemah terhadap Belanda dan gaya hidup kebarat-baratan.
·         Pemasangan patok-patok di  atas makam leluhurnya di Tegalrejo, diganti tombak sebagai tanda protes, mengirim surat peringatan kepada Residen Smissaert untuk memecat Patih Danureja, enggan bertemu untuk minta maaf dan memberi penjelasan/ berunding malah mengirim pasukan ke Tegalrejo untuk menangkap Diponegoro.
·         Perlawanan menyebar hampir di seluruh wilayah Pulau Jawa (1825-1830).

D.    Tujuan Perang Jawa
·         Bukan untuk kekuasaan.
·         Kesederhanaan yang diajarkan dan kedekatannya dengan rakyat jelata membuatnya merasakan penderitaan mereka.
·         Punya pendukung (orang-orang Jawa, Bugis, Bali, Sunda, peranakan Tionghoa, India, para Syarif, Sayyid, Syekh keturunan Arab).


E.     Dukungan Terhadap Diponegoro
1.      Kaum Ningrat Jawa (Pakubuwana IV, Raden Tumenggung Prawirodigdoyo, Pangeran Mangkubumi, Pangeran Ngabehi Jayakusuma, Nyi Ageng Serang, Pangeran Pak-Pak).
2.      Para Ulama dan santri
3.      Rakyat Jelata

F.     Struktur Militer dan Pengaruh Turki
Pasukan-pasukan yang dibentuk Diponegoro
1.      Pangeran Jayakusuma (ahli strategi dalam perang Yogyakarta-Raffles).
2.      Pangeran Mangkubumi (Pelindung keluarga istri, keluarga para pemimpin perang, kepala keluarga).
3.      Kyai Mojo (Penasehat spiritual dan keagamaan).
Panglima tertinggi adalah Sentot Ali Basyah Prawiradirja.

G.    Perang Jawa (1825-1830)
·         Tempat tinggal warisan eyang dibakar, mengamankan diri sementara ke Dekso, barat laut Tegalrejo menuju  ke Selarong (saran Mangkubumi)ร  menempati 2 (Goa Kakung dan Goa Putri)ร  mengatur strategi dan pusat komando --> merebut dan menguasai wilayah kesultanan Yogyakarta, nagara terutama keraton Yogyakarta.
·         Perlawanan Diponegoro --> perang Sabil (Belanda pribumi pendukung Belanda)
·         Sukses di awal perang (mengepung Yogyakarta, mengendalikan Jawa). --> menyerbu ke keraton Yogyakarta. --> berhasil, hanya diisolasi.
·         Pertempuran bersifat terbuka --> dikuasai siang direbut malam.
·         Serangan besar rakyat dilakukan pada bulan penghujan (Belanda akan melakukan gencatan senjata dan berunding karena hujan menghambat). + musuh tak tampak ( malaria, disentri)
·         Saat gencatan, mengirim mata-mata dan provokator ร  pejuang pribumi tidak gentar.

H.    Penangkapan yang Licik
·         1829 kembali ke perang gerilyaร  menguasai Bagelen, sebagian sungai Progo, Brogowoto, dan Banyumas --> De Kock menyerang agresifร  berlangsung dg bantuan pasukan pribumi (Sulawesi, Maluku, Bali), --> ke Surakarta bergabung dengan Kasunanan Surakarta --> berhasil didesak.
·         Sebelum penangkapan
Kyai Mojo dan pasukan ingin berunding dengan Belandaร  upaya 1 dan 2 gagal (pengawalan ketat). Kyai Mojo dan pasukannya kembali ke tempat semula, tiba-tiba pasukan Le Born menyerang --> gagal (pasukannya siap mati syahid) --> menggunakan tipu muslihat --> berhasil --> membujuk pasukan Diponegoro.
·         Letkol Sollevipu menyerang markas Diponegoro --> menangkap Diponegoro Anom --> ancam dibunuh --> tidak digubris --> tidak jadi dibunuh.
·         31 Juli istri dan anak pangeran Mangkubumi menyerah kepada Belanda--> meminta pangeran Diponegoro memberitahu persembunyian dan keluarga panglima yang lain --> panglima tersisa Sentot Basah Prawiradirja --> menyerah dengan syarat.
·         1829 tahun kemunduran bagi Diponegoro.
·         Sayembara kepala Diponegoro --> tak ada yang berani berkhianat.
·         De Kock mengajak berunding --> gagal --> lagi --> diterima (bulan Syawal pantang perang)-->  dibawa ke Ungaran.

I.       Pegasingan dan Kondisi Jawa Pasca Perang
·         Ungaran --> Semarang --> Batavia --> 3 minggu di penjara --> Manado --> Fort Rotterdam.
·         Sri Susuhunan Pakubuwana VI ketahuan --> dihukum --> menganggap tidak adil --> saat ziarah dibuang ke Ambon.
·         Belanda membuat usaha agar tidak ada lagi perlawanan.

J.      Makna Perang Jawa bagi Bangsa Indonesia
Puncak perlawanan Pangeran Diponegoro bersama rakyat atas ketidakadilan para penguasanya yang bekerjasama dengan kaum penjajah.

Kesimpulan

Dalam buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup Pangeran Diponegoro sampai akhirnya meletuslah perang Jawa. Selain itu ada banyak hal yang dapat diteladani dari Pangeran Diponegoro diantaranya sifatnya yang sederhana, adil, rela berkorban, egaliter, professional, ksatria, dan mencintai rakyat. Untuk itu, buku ini menarik untuk dibaca dan dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk kita mengenai kepahlawanan.



Selasa, 28 Agustus 2018

Resensi Novel "Atheis"



Memaknai Keberadaan Tuhan

       


Judul buku                               : Atheis
Jenis buku                                : Novel
Penulis                                     : Achdiat K. Mihardja
Penerbit                                    : Balai Pustaka
Cetakan                                    : ke-30
Tahun terbit                              : 2008 
Jumlah halaman                        : 250 halaman



Sinopsis 

Novel ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Hasan. Pemuda yang sangat alim seperti keluarganya. Hasan selalu melaksanakan ibadahnya dengan rajin. Namun, karena ia salah dalam bergaul yaitu saat bertemu dengan teman lamanya, Rusli, yang tidak percaya akan Tuhan, ia mulai goyah akan keyakinannya. Hal itu membuat ayahnya sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Sampai saatnya ia menikahi Kartini. Hasan merasa sulit dalam nengendalikan emosinya, sehingga pernah mengusir Kartini dari rumahnya. Akibat dari kejadian tersebut, Anwar berusaha mendekati Kartini yang membuat Hasan semakin naik darah dan memilih untuk membalas dendam kepada Anwar karena telah menganggu rumah tangganya. Padahal waktu itu tengah dalam situasi dijajah oleh Belanda. Tanpa pikir panjang, Hasan berangkat dari tempat persembunyiannya untuk membalaskan dendamnya kepada Anwar. Malangnya, ia malah tertembak saat dalam perjalanan. 

Analisis unsur intrinsik
Tema                                       : Agama
Tokoh dan Penokohan             :
      1.      Hasan
a.       Penurut
b.      Mudah terpengaruh
c.       Pencemburu
d.      Penakut
      2.      Ayah dan ibu Hasan    : Seseorang yang sangat saleh dan alim
      3.      Kartini
a.       Orang yang bebas
b.      Pengertian
      4.      Rusli
a.       Pandai berbicara
b.      Ramah
c.       Atheis
      5.      Bibi Hasan                   : Pengertian
      6.      Anwar
a.       Pandai mencuri
b.      Pemberani
Setting                          :
      1.      Waktu              : Pada  masa penjajahan Belanda
      2.      Tempat            : Bandung
      3.      Suasana           : Menyedihkan
Alur/ plot                     : Campuran
Sudut pandang             : Orang pertama

Amanat                                    :
      1.      Berbakti dan menuruti perintah kedua orang tua.
      2.      Taat dalam beribadah.
      3.      Segeralah meminta maaf apabila berbuat kesalahan.
      4.      Kita harus memiliki pendirian yang kokoh agar tidak mudah goyang/ terpengaruh.
      5.      Berhati-hati dalam memilih teman bergaul.
      6.      Sebelum mengambil keputusan hendaklah dipikirkan dahulu.

Keunggulan buku :
     1.      Apabila terdapat kata-kata dari bahasa asing dibawahnya disertai pengertian/ penjelasan kata tersebut.
   2. Terdapat beberapa gambar pada ilustrasi tertentu sehingga mempermudah pembaca untuk membayangkannya.
     3.      Alur ceritanya menarik untuk dibaca.

Penilaian terhadap Novel
Novel Atheis ini dikemas secara apik dengan tema keagamaan. Novel ini mengajarkan kita tentang pentingnya kita memahami dasar-dasar agama dari sumber aslinya yaitu Al Quran dan As Sunnah bukan hanya dari argumen-argumen orang lain tanpa disertai bukti yang jelas. Seperti Hasan yang dasar agamanya masih dirasa kurang karena dia masih terombang-ambing dengan pendapat orang lain yang mengatakan bahwa Tuhan itu kita sendiri atau biasa disebut dengan atheis. Tokoh yang diceritakan dalam novel tersebut menggambarkan potret sebagian besar umat Islam yang ada, yang beragama hanya sekadar mengikuti tradisi bukan dari Al Quran dan As Sunnah sehingga wajar pondasi keimanannya mudah goyang dengan berbagai godaan yang ada. Sesuai dengan karakter novel-novel angkatan dahulu banyak menggunakan bahasa-bahasa asing di dalamnya seperti bahasa Belanda karena dalam cerita tersebut terjadi saat masa penjajahan Belanda. Walaupun begitu, penulis sudah menuliskan arti kata dalam bahasa Indonesia yang dapat kita baca di halaman paling bawah.

Kesimpulan
Novel atheis ini menarik untuk dibaca, ceritanya disajikan dengan alur yang jelas, dan mudah dimengerti, serta mengandung pesan moral yang dapat dipelajari agar kita memiliki pendirian yang kuat, selalu berhati-hati dalam bergaul sehingga kita tidak akan terjerumus dalam hal-hal yang tidak baik.


http://uny.ac.id
https://journal.uny.ac.id