Jejak Kesaktian dan Spiritual Pangeran Diponegoro
IDENTITAS BUKU
Judul buku : Jejak Kesaktian dan Spiritual Pangeran Diponegoro
Jenis buku : Pahlawan
Penerbit : Araska Publisher
Cetakan : Pertama
Tahun terbit : 2014
Jumlah halaman : 246 halaman
BIODATA PANGERAN DIPONEGORO
Nama : Bendoro Raden Mas Mustahar
(nama kecil) è Pangeran
Diponegoro
TTL : Keraton Yogyakarta, 11
November 1785
Ayah : Gusti Raden Mas Suryo (HB III)
Ibu : Raden Ayu Mangkarawati
Kakek :
Hamengkubuwana I
Eyang buyut : Ratu Ageng Prampelan (dari Pajang)
Nama-namanya :
1.
Bendoro Raden
Mas Mustahar (saat lahir)
2.
Raden Mas
Ontowiryo (remaja)
3.
Pengeran
Diponegoro (saat ayahnya diangkat menjadi HB III)
4.
Syech
Ngabdurrahim (saat menyamar sbg rakyat kecil, menuntut ilmu di pesantren)
5.
Ngabdulkamit
(dari Sunan Kalijaga)
6.
Sultan Erucokro
(dari para pendukungnya saat perang Jawa)
Silsilah
Prabu
Brawijaya V --> Bondan Kejawan --> Ki
Getas Pandawa --> Ki Ageng Solo --> Ki
Ageng Ngenis --> Ki Ageng
Pemanahan --> Panembahan
Senapati -->
Panembahan Sedakrapyak --> Sultan Agung
Amangkurat I --> Pakubuwana I -->
Amangkurat IV --> HB I --> HB
II --> HB
III -->
Pangeran Diponegoro
Istri (7)
Anak (22)
Wafat : Fort
Roterrdam, Makassar, 8 Januari 1855
HUBUNGAN DIPONEGOROO DENGAN PARA PENGUASA JAWA
A.
Diponegoro
dan Keraton Yogyakarta Hadiningrat
·
Lahir saat HB I
masih bertahta, kepemimpinan HB II (umur 7 tahun), mulai tinggal di luar
keraton yaitu di Tegalrejo.
·
Hubungan
Diponegoro dengan keraton lebih bersifat personal/ informal, pertemuan formal
jarang diikuti.
·
Tidak mau menghadap
istana karena banyak persekongkolan, kemerosotan akhlak, pelanggaran susila, budaya
barat yang merusak.
·
Sampai perang
Jawa, bangsawan keraton dibagi menjadi dua kubu (memihak Belanda -->
Ratu Ibu, Patih Danureja IV) dan di pihak Diponegoro (Mangkubumi, Pangeran
Ngabehi Jayakusuma)
B.
Diponegoro
dan Keraton Surakarta
·
Pakubuwana IV mendukungnya,
Pakubuwana IV terikat perjanjian dengan
Belanda (menjalin persekutuannya dengan Diponegoro secara diam-diam).
·
Menjalankan
aksi ganda (memberi bantuan dan dukungan kepada Diponegoro dan mengirimkan
pasukan pura-pura membantu Belanda).
·
Diponegoro
sangat dekat dengan para ulama seperti Kiai Mojo.
C.
Perjuangan
Keturunan Diponegoro: Bersembunyi dan Amnesti
·
Setelah
penangkapan dan pengasingan Diponegoro keluarga dan keturunannya banyak yang
berpisah dan menutupi identitasnya sehingga tak jarang anggota keluarga tak
mengenal lainnya.
·
Ada kode
rahasia untuk mengenali keturunan Diponegoro[trah Sadewa (menanam pohon di
sekeliling rumah; kemuning di kanan-kiri, sawo di depan tapi bukan sawo kecik
karena lazim ditemui di sekitar keraton, kepel di belakang).]
·
Kedatangan
anak-cucu ke Jawa terjadi setelah kemerdekaan (jasa Bung Karno).
·
Di Jawa Tengah
keturunannya terbebani oleh posisinya sebagai pemberontak yang tidak diterima
di lingkungan keraton sehingga banyak yang tidak mengaku sebagai keturunannya.
·
Sekarang sudah
tidak dengan adanya amnesty dari Sri Sultan HB IX.
MELETUSNYA PERANG JAWA
A.
Penjajahan
Eropa: Dari Rennaisance ke Kolonialisme
Berbagai
cara ( perjanjian kerja sama yang licik, dengan kekerasan (perang), memonopoli
perdagangan).
1.
Menjadi Koloni
Prancis-Belanda
·
Daendels tidak
mencerminkan semboyan “Liberte, Egalite, Fraternite” kebebasan, persamaan, bertindak
egois.
·
Tercermin saat proyek
pembuatan dan pelebaran jalan 1000 km dari Anyer, Banten sampai Panarukan,
Situbondo.
·
Merombak relasi
dengan raja-raja Jawa (melunturkan kehormatan lokal dan menghapus
upacara-upacara adat).
·
Raja-raja Jawa
menyebutnya Mas Guntur, Tangan Guntur, Mas Galak (hobi membentak dan suaranya
menggelegar).
·
Meletupkan
perang besar (perang Diponegoro atau perang Jawa).
2.
Di bawah
Kekuasaan Inggris
·
Daendels
digantikan oleh Jan William Janssens.
·
Inggris
memegang kekuasaan ditandai dengan perjanjian Tuntang. Belanda tidak lagi
memiliki kekuasaan di Indonesia.
·
Lord Minto
mengangkat Thomas Stamford Raffles sebagai letnan gubernur Hindia Belanda.
·
Raffles dikenal
mempunyai kebijakan yang liberal seperti penghapusan budak tidak jauh berbeda
dengan Daendels.
·
1812 Yogyakarta
jatuh ke tangan Inggris, raja yang bertahta yaitu HB II dipaksa menyerahkan
tahtanya kepada putra mahkota.
3.
Kembali ke
Tangan Belanda
·
Masa
pemerintahan HB IV (masa keemasan masuknya pengaruh budaya Eropa di Jawa, moral
rusak).
·
HB IV meninggal
mendadak (kemungkinan diracun), digantikan anaknya RM Menol (2 tahun).
B.
Pengaruh
Bencana Alam Dan Wabah Penyakit
Meletusnya
gunung Tambora 1815 (salah dugaan), letusan Merapi (sebelum Perang Diponegoro,
wabah penyakit (kolera).
C.
Pemicu
Perang Jawa
·
Perang antara
Diponegoro bersama rakyat Jawa melawan keraton Yogyakarta yang tunduk Belanda.
·
Akibat
sewenang-wenangan Belanda.
·
Sebagai anak
tertua HB II diangkat menjadi putra Mahkota tetapi menolak karena menganggap
ayahnya telah durhaka kepada kakeknya (HB II) karena bersikap lemah terhadap
Belanda dan gaya hidup kebarat-baratan.
·
Pemasangan
patok-patok di atas makam leluhurnya di
Tegalrejo, diganti tombak sebagai tanda protes, mengirim surat peringatan
kepada Residen Smissaert untuk memecat Patih Danureja, enggan bertemu untuk
minta maaf dan memberi penjelasan/ berunding malah mengirim pasukan ke
Tegalrejo untuk menangkap Diponegoro.
·
Perlawanan
menyebar hampir di seluruh wilayah Pulau Jawa (1825-1830).
D.
Tujuan
Perang Jawa
·
Bukan untuk
kekuasaan.
·
Kesederhanaan
yang diajarkan dan kedekatannya dengan rakyat jelata membuatnya merasakan
penderitaan mereka.
·
Punya pendukung
(orang-orang Jawa, Bugis, Bali, Sunda, peranakan Tionghoa, India, para Syarif,
Sayyid, Syekh keturunan Arab).
E.
Dukungan
Terhadap Diponegoro
1.
Kaum Ningrat
Jawa (Pakubuwana IV, Raden Tumenggung Prawirodigdoyo, Pangeran Mangkubumi,
Pangeran Ngabehi Jayakusuma, Nyi Ageng Serang, Pangeran Pak-Pak).
2.
Para Ulama dan
santri
3.
Rakyat Jelata
F.
Struktur
Militer dan Pengaruh Turki
Pasukan-pasukan
yang dibentuk Diponegoro
1.
Pangeran
Jayakusuma (ahli strategi dalam perang Yogyakarta-Raffles).
2.
Pangeran
Mangkubumi (Pelindung keluarga istri, keluarga para pemimpin perang, kepala
keluarga).
3.
Kyai Mojo (Penasehat
spiritual dan keagamaan).
Panglima
tertinggi adalah Sentot Ali Basyah Prawiradirja.
G.
Perang
Jawa (1825-1830)
·
Tempat tinggal
warisan eyang dibakar, mengamankan diri sementara ke Dekso, barat laut
Tegalrejo menuju ke Selarong (saran Mangkubumi)à
menempati 2 (Goa Kakung dan Goa Putri)à mengatur
strategi dan pusat komando --> merebut dan
menguasai wilayah kesultanan Yogyakarta, nagara terutama keraton Yogyakarta.
·
Perlawanan
Diponegoro -->
perang Sabil (Belanda pribumi pendukung Belanda)
·
Sukses di awal
perang (mengepung Yogyakarta, mengendalikan Jawa). -->
menyerbu ke keraton Yogyakarta. --> berhasil, hanya
diisolasi.
·
Pertempuran
bersifat terbuka --> dikuasai siang
direbut malam.
·
Serangan besar
rakyat dilakukan pada bulan penghujan (Belanda akan melakukan gencatan senjata
dan berunding karena hujan menghambat). + musuh tak tampak ( malaria, disentri)
·
Saat gencatan,
mengirim mata-mata dan provokator à pejuang
pribumi tidak gentar.
H.
Penangkapan
yang Licik
·
1829 kembali ke
perang gerilyaà menguasai
Bagelen, sebagian sungai Progo, Brogowoto, dan Banyumas --> De
Kock menyerang agresifà berlangsung dg
bantuan pasukan pribumi (Sulawesi, Maluku, Bali), --> ke
Surakarta bergabung dengan Kasunanan Surakarta -->
berhasil didesak.
·
Sebelum
penangkapan
Kyai Mojo dan
pasukan ingin berunding dengan Belandaà upaya 1 dan 2
gagal (pengawalan ketat). Kyai Mojo dan pasukannya kembali ke tempat semula,
tiba-tiba pasukan Le Born menyerang --> gagal (pasukannya
siap mati syahid) --> menggunakan
tipu muslihat --> berhasil -->
membujuk pasukan Diponegoro.
·
Letkol
Sollevipu menyerang markas Diponegoro --> menangkap Diponegoro
Anom -->
ancam dibunuh --> tidak digubris -->
tidak jadi dibunuh.
·
31 Juli istri
dan anak pangeran Mangkubumi menyerah kepada Belanda-->
meminta pangeran Diponegoro memberitahu persembunyian dan keluarga panglima
yang lain --> panglima
tersisa Sentot Basah Prawiradirja --> menyerah dengan
syarat.
·
1829 tahun
kemunduran bagi Diponegoro.
·
Sayembara
kepala Diponegoro --> tak ada yang
berani berkhianat.
·
De Kock
mengajak berunding --> gagal -->
lagi -->
diterima (bulan Syawal pantang perang)--> dibawa ke Ungaran.
I.
Pegasingan
dan Kondisi Jawa Pasca Perang
·
Ungaran -->
Semarang -->
Batavia --> 3
minggu di penjara --> Manado --> Fort
Rotterdam.
·
Sri Susuhunan
Pakubuwana VI ketahuan --> dihukum -->
menganggap tidak adil --> saat ziarah
dibuang ke Ambon.
·
Belanda membuat
usaha agar tidak ada lagi perlawanan.
J.
Makna
Perang Jawa bagi Bangsa Indonesia
Puncak
perlawanan Pangeran Diponegoro bersama rakyat atas ketidakadilan para
penguasanya yang bekerjasama dengan kaum penjajah.
Kesimpulan
Dalam buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup Pangeran Diponegoro
sampai akhirnya meletuslah perang Jawa. Selain itu ada banyak hal yang dapat
diteladani dari Pangeran Diponegoro diantaranya sifatnya yang sederhana,
adil, rela berkorban, egaliter, professional, ksatria, dan mencintai rakyat. Untuk itu, buku ini menarik untuk
dibaca dan dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk kita mengenai
kepahlawanan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar