Halaman

Jumat, 07 September 2018

Paragraf Jurnalistik

Taktik Menulis Paragraf Jurnalistik




Judul buku          : Paragraf Jurnalistik Menyusun Alinea Bernilai Rasa dalam Bahasa Laras Media
Jenis buku           : Teks
Penulis                : Dr. R. Kunjana Rahardi, M. Hum
Penerbit               : Santusta
Cetakan               : Pertama 
Tahun terbit         : 2006
Jumlah halaman  : 113 halaman


Isi Buku
Tugas paling mendasar dari seorang jurnalis media adalah merangkai kalimat-kalimat jurnalistik, menyusun paragraf-paragraf jurnalistik, dan menyajikannya dalam karya jurnalistik yang lengkap dan utuh untuk disampaikan kepada publik melalui media cetak yang menjadi naungannya. Membuat paragraf jurnalistik bukan merupakan proses yang singkat dan sederhana melaikan proses yang pastilah panjang, kadang sulit, rumit, berbelit, penuh perjuangan, dan sarat ketekunan.
Syarat bahasa laras jurnalistik yang dijadikan pedoman yaitu diantaranya, yaitu (1)  menjunjung tinggi dimensi kekomunikatifan yang berciri sederhana, tidak berbelit-belit, dan sesuai data dan fakta, serta langsung menuju sasaran atau pokok permasalahannya (straight to the point). Bahasa yang digunakan haruslah lugas, sederhana, tegas, tepat, dan akurat dalam diksi dan pemilihan katanya sehingga tidak menimbulkan salah paham dan tidak bersifat ambigu; (2) menjunjung tinggi dimensi kespesifikan. Maksudnya, bahasa jurnalistik harus disusun dengan klausa-klasusa yang sederhana, kalimat yang ingkat, kontruksi kebahasaan yang pendek agar dapat dipahami dan dimengerti oleh banyak orang; (3)  menjunjung tinggi dimensi kehematan, yang dalam hal ini dikatakan sebagai prinsip ekonomi bahasa atau prinsip ekonomi kata (economy of words, word economy). Bentuk kebahasaaan yang digunakan dalam bahasa pers, sedapat mungkin jumlah karakter katanya sedikit atau minimal. Anda menuliskan dalam bentuk yang singkat dan sederhana, bentuk yang tidak berbelit dan lugas sehingga lebih terpercaya; (4) menjunjung tinggi dimensi kejelasan. Di dalam bahasa ragam jurnalistik sedapat mungkin menggunakan kata yang mengandung makna denotatif, kata-kata yang bermakna apa adanya, bukan kata yang bermakna konotatif atau kiasan dan bersifat ambigu, serta bukan konseptual melainkan kontekstual. Selain itu, penghalusan bentuk kebahasaan atau disebut dengan eufemisme justru dipandang sebagai pemborosan kata dan memiliki kadar kejelasan makna yang rendah; (5) mengutamakan ketidakmubaziran dan ketidakklisean. Kata-kata klise menunjuk pada kata yang berciri memenatkan, melelahkan, membosankan, tidak ada kreasi dan inovasinya, serta tidak ada variasinya.
Ihwal dalam paragraf jurnalistik mengajak Anda menjadi pribadi yang benar-benar rajin membaca dan memperhatikan karya-karya jurnalistik orang lain dalam wadah jurnalistik serupa, dan senantiasa mengomparasi, serta mengontraskan karya dengan milik orang lain. Mencermati dalam menggunakan dan mempirantikan aspek-aspek kebahasaan. Tidak boleh ceroboh dan selalu mencermati pedoman dan perangkat penuntun yang ada, serta tidak boleh memperangkatkan bahasa dengan seenaknya. Sehingga karya jurnalistik Anda benar-benar menjadi baik dan sempurna.
Secara visual sosok paragraf atau alinea pada karya-karya ilmiah umumnya harus ditandai dua macam hal, yaitu (1) baris pertama ditulis menjorok ke dalam sebanyak lima ketukan dari marjin kiri, (2) selalu diawali dengan baris baru.
Jadi sama sekali tidak benar, bilamana ada pendapat tertentu dari sementara orang, yang mengatakan bahwa para jurnalis media massa cetak itu memiliki kebebasan yang mutlak dan berciri substantif dalam aktivitas berolah bahasa, dalam mempirantikan aspek-aspek kebahasaan. Dalam hemat penulis, hanya para penyair, bukan penyair, bukan pula presenter sajalah yang memiliki licentia poetika, yakni kebebasan untuk dalam batas-batas tertentu menyimpang dari kaidah-kaidah ketatabahasaan yang ada pada karya-karya mereka.
Paragraf jurnalistik itu sesungguhnya merupakan bagian dari karangan tulis pada umumnya yang merupakan bagian dari karangan tulis pada umumnya yang merupakan kesatuan pikiran, ide, dan gagasan. Hal tersebut yang dilisankan lewat media elektronik disebut paratone. Setiap paratone atau paragraf jurnalistik selalu harus dikaitkan oleh satu ide pokok tidak boleh terdiri dari dua atau lebih ide pokok.
Hal pokok yang mendasar dalam paragraf jurnalistik, yaitu (1) dibuat, disusun, ditata dengan sungguh-sungguh baik, sistematis dan rasional, runtut, rapi, logis, sistematik, dapat dipertanggungjawabkan, (2) makna, maksud, peran, gagasan, ide, pikiran,informasi dinyatakan dengan jelas dan terurai, tajam, tuntas, lugas, dan paragraf tersebut memiliki hubungan yang relevan dengan keseluruhan karangan jurnalistik tersebut, (3) harus kohesif atau padu dalam dimensi maknanya, juga koherensif atau padu dalam dimensi bentuknya, (4) memiliki kalimat topik yang didukung dengan kalimat-kalimat penjelas.
Kriteria paragraf jurnalistik disamping memiliki kesatuan dan kepaduan paragraf, terdapat ciri-ciri lainnya, yaitu (1) ketuntasan, (2) keparalelan, (3) keruntutan, dan (4) kekonsistenan. Ketuntasan dalam paragraf jurnalistik dapat diupayakan dengan cara mengadakan pengelompokkan atau klasifikasi dan mengadakan pembahasan atau analisis yang rapi. Dengan cara tersebut dapat dihasilkan simpulan-simpulan sahih, terandal, dan benar-benar tuntas, serta tandas. Keparalelan paragraf jurnalistik dapat mengikat dengan erat makna yang hendak disampikan dan dinyatakan sehingga tidak akan menyimpang dan menyebar ke segala arah dan berbagai jurusan. Keruntutan paragraf jurnalistik menunjuk pada entitas penyusunan urutan gagasan dalam sebuah paragraf dengan rapi, runtut, dan tertib. Dengan begitu, tulisan dalam paragraf serasa berjalan mengalir, tenang, tidak tersandung-sandung, dan tidak melompat-lompat. Konsisteni dalam sudut pandang senantiasa memperhatikan seorang jurnalis, jika menyebut diri Anda sebagai kami, aku, saya, selalu gunakan secara konsisten sebutan itu disepanjang karya jurnalistik Anda.
Fungsi paragraf jurnalistik, diantaranya (1) sebagai piranti atau wahana pengungkapan ide, penyampaian gagasan, pengungkapan pikiran, penyampaian fakta pokok, yang semuanya mempunyai nilai dan kadar jurnalistik; (2) sebagai piranti memudahkan pembaca media massa cetak, untuk memahami jalan pikiran sang jurnalis atau yang menuliskan karya jurnalistiknya; (3) sebagai piranti bagi jurnalis untuk mengembangkan jalan pikiran dan pengungkapan gagasannya dalam laras bahasa pers atau ragam bahasa jurnalistik; (4) sebagai piranti mengawali, mengisi, mengembangkan, dan menutup pengungkapan gagasan atau pemikiran Anda secara keseluruhan dalam konteks tulisan jurnalistik atau tulisan di media massa.
Komponen paragraf jurnalistik seperti halnya dengan sosok bahasa pada umumnya yang memiliki kebahasaan dan unsur-unsur lahiriah (kalimat, frasa, kata, suku kata, dll) dan unsur-unsur non lahiriah (makna, maksud, proposisi). Secara lahiriah, khususnya paragraf jurnalistik jenis non naratif, lazimnya paragraf itu tersusun dari unsur-unsur berikut, (1) kalimat topik atau kalimat utama, (2) kalimat pengembang atau kalimat penjelas, (3) kalimat penegas, dan (4) unsur-unsur transisi.
Banyak sekali macam paragraf atau alinea jurnalistik, diantaranya (1) paragraf jurnalistik deduktif, kalimat utama yang terletak dibagian paling depan; (2) paragraf jurnalistik induktif, dimulai dengan penjelasan tentang beberapa hal yang sifatnya khusus, terurai, detail, terperinci, kemudian dituangkan ke dalam kalimat-kalimat pengembang yang menempati posisi mulai awal hingga menjelang akhir paragraf tersebut; (3) paragraf jurnalistik abduktif atau campuran atau disebut alinea kombinasi, seolah-olah kalimat topik paragraf jurnalistik itu ditempatkan pada dua lokasi yaitu di awal dan di akhir paragraf, lalu dinyatakan lagi secara umum dalam bentuk kalimat penegas di akhir paragraf; (4) paragraf jurnalistik komparatif,  disusun dengan cara membandingkan atau mengomparasikan dua macam hal yang terdapat dalam kalimat utama paragraf; (5) paragraf jurnalistik pertanyaan, kalimat pokok itu tidak selalu berbentuk kalimat deklaratif; (6) paragraf jurnalistik sebab-akibat atau dapat disebut paragraf jurnalistik kausal, tersusun dari sebuah kalimat topik yang menunjukkan sebab-sebab dari hal tertentu kemudian akibat-akibatnya dijabarkan dalam kalimat-kalimat penjelas atau pengembangnya; (7) paragraf jurnalistik contoh, disusun dengan cara menjabarkan kalimat topik dengan memakai aneka contoh; (8) paragraf jurnalistik pengulangan, disusun dengan memberikan pengulangan-pengulangan tertentu pada kata-kata yang terdapat dalam kalimat topik paragraf; (9) paragraf jurnalistik definisi, disusun dengan cara memberikan penjelasan atau pendefinisian atas pengertian tertentu terhadap kata-kata kunci di dalam kalimat topik; (10) paragraf jurnalistik perincian, biasanya tidak memiliki pokok bahasan tertentu yang sifatnya khusus; (11) paragraf jurnalistik kronologis, disusun dengan cara mengurutkan kejadian atau peristiwa yang terjadi; (12) paragraf jurnalistik deskriptif spasial, dipakai untuk menggambarkan tempat atau lokasi tertentu; (13) paragraf jurnalistik perkiraan atau peramalan, sifatnya ilmiah dan non ilmiah.
Paragraf jurnalistik harus tersusun dari kalimat-kalimat jurnalistik yang tersusun secara padu dan satu. Oleh karena itu, dalam sebuah paragraf jurnalistik harus senantiasa dipikirkan kemungkinan-kemungkinan perpautan kalimat yang satu dengan yang lainnya. Salah satu hal paling pokok berkaitan dengan perpautan antarkalimat ialah digunakannya konjungsi  atau kata sambung dan preposisi atau kata depan.
Untuk dapat menghasilkan sebuah karya jurnalistik yang baik, Anda harus bisa menguraikan ide pokok atau pokok bahasa tulisan ke dalam paragraf jurnalistik yang betul-betul baik. Teknik pemaparan tersebut, diantaranya (1) teknik pemaparan deskriptif, disebut juga paragraf lukisan, yaitu alinea yang melukiskan atau menggambarkan apa saja yang dilihat di depan mata penulis atau jurnalisnya. Bersifat loyal terhadap tata ruang atau tata letak objek yang dituliskan itu. Pelukisan paragraf deskriptif jurnalistik ini berkaitan erat dengan segala sesuatu yang ditangkap atau dicercap panca indera manusia; (2) teknik pemaparan ekspositoris atau paparan, untuk memaparkan objek tertentu yang hendak dituliskan. Penyajiannya tertuju hanya pada satu unsur dari objek itu saja; (3) teknik pemaparan argumentative, dapat dihasilkan paragraf jurnalistik argumentative atau alinea persuasif yang baik dan bertujuan untuk membujuk dan meyakinkan pembaca tentang arti penting objek tertentu yang dijelaskan dalam paragraf jurnalistik tersebut; (4) teknik pemaparan naratif, berkaitan erat dengan ihwal penceritaan atau pendongengan sesuatu, banyak ditemukan dalam cerita-cerita pendek dan cerita-cerita bersambung di surat kabar. Tujuan yang lebih utama dari teknik ini adalah untuk menghibur pembaca.
Adapun pola pengembangan paragraf jurnalistik, diantaranya (1) pola runtutan ruang dan waktu, digunakan untuk menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa; (2) pola runtutan sebab akibat, digunakan dalam karangan-karangan jurnalistik untuk mengemukakan alasan tertentu; (3) pola runtutan pembanding, digunakan untuk membandingkan atau mengomparasikan dua hal atau lebih; (4) pola runtutan peribaratan, digunakan untuk menjelaskan hal tertentu yang memiliki ciri keserupaan dengan hal tertentu; (5) pola runtutan daftar, lazimnya digunakan dalam karya-karya yang berkaitan dengan keteknikan yang seringkali harus mengemukakan informasi dalam bentuk daftar, tabel, grafik, dan semacamnya; (6) pola runtutan contoh, kalimat-kalimat pengembangnya menggunakan contoh-contoh tentang apa yang dimaksud dalam kalimat topik atau kalimat utama paragraf itu; (7) pola runtutan bergambar, dimaksudkan untuk memperjelas apa yang akan dituliskan dalam sebuah paragraf jurnalistik.
Jenis-jenis paragraf karangan jurnalistik ada tiga, yaitu paragraf jurnalistik pembuka, pengembang, dan penutup.
Diksi atau pemilihan kata bertautan sangat erat dengan ihwal ketepatan dan kesesuaian dalam menggunakan kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang sesuai dengan kaidah kebahasaan dan kaidah non-kebahasaannya.

Keunggulan     :
1.      Disajikan dalam bentuk tabel sehingga mempermudah membaca.
2.      Dilengkapi dengan senarai atau daftar tata tulis jurnalistik yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Kelemahan      :
1.      Tidak diberikan satu contoh artikel yang menjelaskan maksud dari keseluruhan buku.

Kesimpulan
Buku Paragraf Jurnalistik Menyusun Alinea Bernilai Rasa dalam Bahasa Laras Media memberikan informasi mengenai bagaimana cara membuat suatu karya jurnalistik yang baik dan benar. Dilengkapi dengan penjelasan-penjelasan dari masing-masing struktur yang ada di dalam paragraf jurnalistik.  Dengan begitu, buku ini bermanfaat untuk dibaca terutama untuk calon-calon jurnalis yang ingin membuat karya jurnalistik yang baik dan benar sesuai kaidah dan pedoman Bahasa Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar