Taktik Menulis Paragraf Jurnalistik
Judul buku : Paragraf
Jurnalistik Menyusun Alinea Bernilai Rasa dalam Bahasa Laras Media
Jenis
buku : Teks
Penulis : Dr. R. Kunjana Rahardi, M. Hum
Penerbit : Santusta
Cetakan : Pertama
Tahun terbit : 2006
Jumlah halaman : 113
halaman
Isi Buku
Tugas paling
mendasar dari seorang jurnalis media adalah merangkai
kalimat-kalimat jurnalistik, menyusun paragraf-paragraf jurnalistik, dan
menyajikannya dalam karya jurnalistik yang lengkap dan utuh untuk disampaikan
kepada publik melalui media cetak yang menjadi naungannya. Membuat paragraf
jurnalistik bukan merupakan proses yang singkat dan sederhana melaikan proses
yang pastilah panjang, kadang sulit, rumit, berbelit, penuh perjuangan, dan
sarat ketekunan.
Syarat bahasa
laras jurnalistik yang dijadikan pedoman yaitu diantaranya, yaitu (1) menjunjung tinggi dimensi kekomunikatifan
yang berciri sederhana, tidak berbelit-belit, dan sesuai data dan fakta, serta
langsung menuju sasaran atau pokok permasalahannya (straight to the point).
Bahasa yang digunakan haruslah lugas, sederhana, tegas, tepat, dan akurat dalam
diksi dan pemilihan katanya sehingga tidak menimbulkan salah paham dan tidak
bersifat ambigu; (2) menjunjung tinggi dimensi kespesifikan. Maksudnya, bahasa
jurnalistik harus disusun dengan klausa-klasusa yang sederhana, kalimat yang
ingkat, kontruksi kebahasaan yang pendek agar dapat dipahami dan dimengerti
oleh banyak orang; (3) menjunjung tinggi
dimensi kehematan, yang dalam hal ini dikatakan sebagai prinsip ekonomi bahasa
atau prinsip ekonomi kata (economy of words, word economy). Bentuk
kebahasaaan yang digunakan dalam bahasa pers, sedapat mungkin jumlah karakter
katanya sedikit atau minimal. Anda menuliskan dalam bentuk yang singkat dan
sederhana, bentuk yang tidak berbelit dan lugas sehingga lebih terpercaya; (4) menjunjung
tinggi dimensi kejelasan. Di dalam bahasa ragam jurnalistik sedapat mungkin
menggunakan kata yang mengandung makna denotatif, kata-kata yang bermakna apa
adanya, bukan kata yang bermakna konotatif atau kiasan dan bersifat ambigu,
serta bukan konseptual melainkan kontekstual. Selain itu, penghalusan bentuk
kebahasaan atau disebut dengan eufemisme justru dipandang sebagai pemborosan
kata dan memiliki kadar kejelasan makna yang rendah; (5) mengutamakan
ketidakmubaziran dan ketidakklisean. Kata-kata klise menunjuk pada kata yang
berciri memenatkan, melelahkan, membosankan, tidak ada kreasi dan inovasinya,
serta tidak ada variasinya.
Ihwal dalam
paragraf jurnalistik mengajak Anda menjadi pribadi yang benar-benar rajin
membaca dan memperhatikan karya-karya jurnalistik orang lain dalam wadah
jurnalistik serupa, dan senantiasa mengomparasi, serta mengontraskan karya
dengan milik orang lain. Mencermati dalam menggunakan dan mempirantikan aspek-aspek
kebahasaan. Tidak boleh ceroboh dan selalu mencermati pedoman dan perangkat
penuntun yang ada, serta tidak boleh memperangkatkan bahasa dengan seenaknya. Sehingga
karya jurnalistik Anda benar-benar menjadi baik dan sempurna.
Secara visual
sosok paragraf atau alinea pada karya-karya ilmiah umumnya harus ditandai dua
macam hal, yaitu (1) baris pertama ditulis menjorok ke dalam sebanyak lima
ketukan dari marjin kiri, (2) selalu diawali dengan baris baru.
Jadi sama
sekali tidak benar, bilamana ada pendapat tertentu dari sementara orang, yang
mengatakan bahwa para jurnalis media massa cetak itu memiliki kebebasan yang
mutlak dan berciri substantif dalam aktivitas berolah bahasa, dalam
mempirantikan aspek-aspek kebahasaan. Dalam hemat penulis, hanya para penyair,
bukan penyair, bukan pula presenter sajalah yang memiliki licentia
poetika, yakni kebebasan untuk dalam batas-batas tertentu menyimpang dari
kaidah-kaidah ketatabahasaan yang ada pada karya-karya mereka.
Paragraf
jurnalistik itu sesungguhnya merupakan bagian dari karangan tulis pada umumnya
yang merupakan bagian dari karangan tulis pada umumnya yang merupakan kesatuan
pikiran, ide, dan gagasan. Hal tersebut yang dilisankan lewat media elektronik
disebut paratone. Setiap paratone atau paragraf jurnalistik selalu harus
dikaitkan oleh satu ide pokok tidak boleh terdiri dari dua atau lebih ide
pokok.
Hal pokok yang
mendasar dalam paragraf jurnalistik, yaitu (1) dibuat, disusun, ditata dengan
sungguh-sungguh baik, sistematis dan rasional, runtut, rapi, logis, sistematik,
dapat dipertanggungjawabkan, (2) makna, maksud, peran, gagasan, ide,
pikiran,informasi dinyatakan dengan jelas dan terurai, tajam, tuntas, lugas,
dan paragraf tersebut memiliki hubungan yang relevan dengan keseluruhan
karangan jurnalistik tersebut, (3) harus kohesif atau padu dalam dimensi
maknanya, juga koherensif atau padu dalam dimensi bentuknya, (4) memiliki
kalimat topik yang didukung dengan kalimat-kalimat penjelas.
Kriteria
paragraf jurnalistik disamping memiliki kesatuan dan kepaduan paragraf,
terdapat ciri-ciri lainnya, yaitu (1) ketuntasan, (2) keparalelan, (3)
keruntutan, dan (4) kekonsistenan. Ketuntasan dalam paragraf jurnalistik dapat
diupayakan dengan cara mengadakan pengelompokkan atau klasifikasi dan
mengadakan pembahasan atau analisis yang rapi. Dengan cara tersebut dapat
dihasilkan simpulan-simpulan sahih, terandal, dan benar-benar tuntas, serta
tandas. Keparalelan paragraf jurnalistik dapat mengikat dengan erat makna yang
hendak disampikan dan dinyatakan sehingga tidak akan menyimpang dan menyebar ke
segala arah dan berbagai jurusan. Keruntutan paragraf jurnalistik menunjuk pada
entitas penyusunan urutan gagasan dalam sebuah paragraf dengan rapi, runtut,
dan tertib. Dengan begitu, tulisan dalam paragraf serasa berjalan mengalir,
tenang, tidak tersandung-sandung, dan tidak melompat-lompat. Konsisteni dalam
sudut pandang senantiasa memperhatikan seorang jurnalis, jika menyebut diri
Anda sebagai kami, aku, saya, selalu gunakan secara konsisten sebutan itu
disepanjang karya jurnalistik Anda.
Fungsi paragraf
jurnalistik, diantaranya (1) sebagai piranti atau wahana pengungkapan ide,
penyampaian gagasan, pengungkapan pikiran, penyampaian fakta pokok, yang
semuanya mempunyai nilai dan kadar jurnalistik; (2) sebagai piranti memudahkan
pembaca media massa cetak, untuk memahami jalan pikiran sang jurnalis atau yang
menuliskan karya jurnalistiknya; (3) sebagai piranti bagi jurnalis untuk
mengembangkan jalan pikiran dan pengungkapan gagasannya dalam laras bahasa pers
atau ragam bahasa jurnalistik; (4) sebagai piranti mengawali, mengisi,
mengembangkan, dan menutup pengungkapan gagasan atau pemikiran Anda secara
keseluruhan dalam konteks tulisan jurnalistik atau tulisan di media massa.
Komponen paragraf
jurnalistik seperti halnya dengan sosok bahasa pada umumnya yang memiliki
kebahasaan dan unsur-unsur lahiriah (kalimat, frasa, kata, suku kata, dll) dan
unsur-unsur non lahiriah (makna, maksud, proposisi). Secara lahiriah, khususnya
paragraf jurnalistik jenis non naratif, lazimnya paragraf itu tersusun dari
unsur-unsur berikut, (1) kalimat topik atau kalimat utama, (2) kalimat
pengembang atau kalimat penjelas, (3) kalimat penegas, dan (4) unsur-unsur
transisi.
Banyak sekali
macam paragraf atau alinea jurnalistik, diantaranya (1) paragraf jurnalistik deduktif,
kalimat utama yang terletak dibagian paling depan; (2) paragraf jurnalistik
induktif, dimulai dengan penjelasan tentang beberapa hal yang sifatnya khusus, terurai,
detail, terperinci, kemudian dituangkan ke dalam kalimat-kalimat pengembang
yang menempati posisi mulai awal hingga menjelang akhir paragraf tersebut; (3)
paragraf jurnalistik abduktif atau campuran atau disebut alinea kombinasi,
seolah-olah kalimat topik paragraf jurnalistik itu ditempatkan pada dua lokasi
yaitu di awal dan di akhir paragraf, lalu dinyatakan
lagi secara umum dalam bentuk kalimat penegas di akhir paragraf; (4) paragraf
jurnalistik komparatif, disusun dengan
cara membandingkan atau mengomparasikan dua macam hal yang terdapat dalam
kalimat utama paragraf; (5) paragraf jurnalistik pertanyaan, kalimat pokok itu
tidak selalu berbentuk kalimat deklaratif; (6) paragraf jurnalistik
sebab-akibat atau dapat disebut paragraf jurnalistik kausal, tersusun dari
sebuah kalimat topik yang menunjukkan sebab-sebab dari hal tertentu kemudian
akibat-akibatnya dijabarkan dalam kalimat-kalimat penjelas atau pengembangnya;
(7) paragraf jurnalistik contoh, disusun dengan cara menjabarkan kalimat topik dengan memakai aneka contoh; (8) paragraf
jurnalistik pengulangan, disusun dengan memberikan pengulangan-pengulangan
tertentu pada kata-kata yang terdapat dalam kalimat topik paragraf; (9)
paragraf jurnalistik definisi, disusun dengan cara memberikan penjelasan atau
pendefinisian atas pengertian tertentu terhadap kata-kata kunci di dalam
kalimat topik; (10) paragraf jurnalistik perincian, biasanya tidak memiliki
pokok bahasan tertentu yang sifatnya khusus; (11) paragraf jurnalistik
kronologis, disusun dengan cara mengurutkan kejadian atau peristiwa yang
terjadi; (12) paragraf jurnalistik deskriptif spasial, dipakai untuk
menggambarkan tempat atau lokasi tertentu; (13) paragraf jurnalistik perkiraan
atau peramalan, sifatnya ilmiah dan non ilmiah.
Paragraf jurnalistik harus tersusun dari
kalimat-kalimat jurnalistik yang tersusun secara padu dan satu. Oleh karena
itu, dalam sebuah paragraf jurnalistik harus senantiasa dipikirkan
kemungkinan-kemungkinan perpautan kalimat yang satu dengan yang lainnya. Salah
satu hal paling pokok berkaitan dengan perpautan antarkalimat ialah
digunakannya konjungsi atau kata sambung
dan preposisi atau kata depan.
Untuk dapat menghasilkan sebuah karya jurnalistik yang
baik, Anda harus bisa menguraikan ide pokok atau pokok bahasa tulisan ke dalam
paragraf jurnalistik yang betul-betul baik. Teknik pemaparan tersebut,
diantaranya (1) teknik pemaparan deskriptif, disebut juga paragraf lukisan,
yaitu alinea yang melukiskan atau menggambarkan apa saja yang dilihat di depan
mata penulis atau jurnalisnya. Bersifat loyal terhadap tata ruang atau tata
letak objek yang dituliskan itu. Pelukisan paragraf deskriptif jurnalistik ini
berkaitan erat dengan segala sesuatu yang ditangkap atau dicercap panca indera
manusia; (2) teknik pemaparan ekspositoris atau paparan, untuk memaparkan objek
tertentu yang hendak dituliskan. Penyajiannya tertuju hanya pada satu unsur
dari objek itu saja; (3) teknik pemaparan argumentative, dapat dihasilkan
paragraf jurnalistik argumentative atau alinea persuasif yang baik dan
bertujuan untuk membujuk dan meyakinkan pembaca tentang arti penting objek
tertentu yang dijelaskan dalam paragraf jurnalistik tersebut; (4) teknik
pemaparan naratif, berkaitan erat dengan ihwal penceritaan atau pendongengan
sesuatu, banyak ditemukan dalam cerita-cerita pendek dan cerita-cerita
bersambung di surat kabar. Tujuan yang lebih utama dari teknik ini adalah untuk
menghibur pembaca.
Adapun pola pengembangan paragraf jurnalistik,
diantaranya (1) pola runtutan ruang dan waktu, digunakan untuk menggambarkan
suatu kejadian atau peristiwa; (2) pola runtutan sebab akibat, digunakan dalam
karangan-karangan jurnalistik untuk mengemukakan alasan tertentu; (3) pola
runtutan pembanding, digunakan untuk membandingkan atau mengomparasikan dua hal
atau lebih; (4) pola runtutan peribaratan, digunakan untuk menjelaskan hal
tertentu yang memiliki ciri keserupaan dengan hal tertentu; (5) pola runtutan
daftar, lazimnya digunakan dalam karya-karya yang berkaitan dengan keteknikan
yang seringkali harus mengemukakan informasi dalam bentuk daftar, tabel,
grafik, dan semacamnya; (6) pola runtutan contoh, kalimat-kalimat pengembangnya
menggunakan contoh-contoh tentang apa yang dimaksud dalam kalimat topik atau
kalimat utama paragraf itu; (7) pola runtutan bergambar, dimaksudkan untuk
memperjelas apa yang akan dituliskan dalam sebuah paragraf jurnalistik.
Jenis-jenis paragraf karangan jurnalistik ada tiga,
yaitu paragraf jurnalistik pembuka, pengembang, dan penutup.
Diksi atau pemilihan kata bertautan sangat erat dengan
ihwal ketepatan dan kesesuaian dalam menggunakan kata-kata atau
ungkapan-ungkapan yang sesuai dengan kaidah kebahasaan dan kaidah
non-kebahasaannya.
Keunggulan :
1.
Disajikan dalam bentuk tabel
sehingga mempermudah membaca.
2.
Dilengkapi dengan senarai atau
daftar tata tulis jurnalistik yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia.
Kelemahan :
1.
Tidak diberikan satu contoh artikel yang menjelaskan maksud dari
keseluruhan buku.
Kesimpulan
Buku Paragraf Jurnalistik Menyusun Alinea Bernilai Rasa dalam Bahasa Laras
Media memberikan informasi mengenai bagaimana
cara membuat suatu karya jurnalistik yang baik dan benar. Dilengkapi dengan
penjelasan-penjelasan dari masing-masing struktur yang ada di dalam paragraf
jurnalistik. Dengan begitu, buku ini
bermanfaat untuk dibaca terutama untuk calon-calon jurnalis yang ingin membuat
karya jurnalistik yang baik dan benar sesuai kaidah dan pedoman Bahasa
Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar